1. Soal dari artikel “Menggugat Banking Education”
a. Jelaskan kaitan makna isi artikel tersebut dengan pendidikan dan pengajaran serta hakikat manusia dan pengembangannya!.
b. Berdasarkan jawaban butir a, maka jelaskan hikmah, pelajaran, kesimpulan dari membaca artikel tersebut!
a. Banking education merupakan salah satu sistem pendidikan yang memberlakukan anak didik diumpamakan sebagai celengan, dan sistem ini tidak akan mampu membuahkan peningkatan intelektual pada anak didik tersebut. Sistem ini tidak mampu mendidik anak didik dengan tepat dan benar. Karena di dalam sistem ini hanya terjadi transfer pengetahuan saja. Realitanya hampir 80% tingkat mendidik sulit untuk dikembangkan. Kebanyakan dari para guru, hanya mampu mengajar saja. Hal ini sesuai contoh yang ada pada kasus dalam artikel bahwa “...praktik yang dilakukan di SMK hanya sebatas pada pemenuhan target kurikulum”. Seolah-olah, para guru hanya menyelesaikan tugasnya mengajar sesuai apa yang telah direncanakan dalam kurikulum. Mereka kurang memperhatikan aspek mendidik. Pendidikan ini mengibaratkan siswa adalah sebuah bejana yang akan dituangi air (ilmu) oleh gurunya. Hal ini jelas sekali memberi gambaran bahwa siswa datang menuntut ilmu dalam keadaan kosong. Setelah mereka belajar di lingkungan sekolah, maka sedikit demi sedikit akan mulai terisi pengetahuan yang mereka peroleh dari pengetahuan yang diberikan oleh guru mereka. Di sini mengandung artian bahwa anak didik bersifat pasif. Selain itu, sikap kritis dan sistematis pada siswa tidak ditemui pada sistem ini. Memang dampaknya siswa akan kaya pengetahuan, akan tetapi pengetahuan itu hanya diperoleh dari pengetahuan yang dimiliki gurunya, buka dari yang siswa peroleh dengan caranya sendiri. Selanjutnya, berbicara mengenai hakikat manusia dan pengembangannya maka awalnya kita harus mengetahui siapa manusia itu sesungguhnya? Bahwa manusia memang bukanlah hewan. Dan tidak bisa disamakan dengan hewan dalam konteks apapun. Jadi, apabila dikaitkan dengan isi yang ada pada artikel tersebut, sebelum mengajar dan mendidik, maka seyogyanya seorang guru mengetahui hakikat anak didiknya dengan baik, memahami karakteristik anak didiknya dengan baik pula. Dengan pemahaman yang benar, maka mereka tidak akan salah dalam pengklasifikasiaanya. Memang benar bahwa belajar merupakan hal yang sangat berat untuk dilakukan. Tidak semua orang bisa melakukan hal ini. Karena belajar membutuhkan niat untuk awalnya, selanjutnya membutuhkan kesadaran bahwa menempuh pendidikan merupakan hal yang sangat penting. Dengan adanya niat dan kesadaran yang timbul, maka pernyataan bahwa belajar merupakan hal yang berat adalah pernyataan yang sangat salah. Pengembangan yang sehat terhadap dimensi kesosialan yang lazim yang sering dinamakan pengembangan horizontal. Yakni memelihara hubungan sosial di antara sesama. Kalau pendidikan terjadi dalam rana sekolah, maka arah pengembangan ini terjadi antara murid dengan semua komponen yang ada dalam lingkungan sekolah tersebut. Jadi harus ada komunkasi di antara mereka. Sebagai misal yang ada dalam artikel megatakan bahwa belajar praktik langsung semata-mata mengaitkan murid dengan lingkungannya agar setelah mereka keluar dari sekolah dapat melanjutkan pendidikan di masyarakat. Sebelum mereka terjun ke dalam dunia masyarakat yang sangat luas, maka langkah awalnya memang harus dilatih bagaimana menciptakan interaksi sosial yang harmonis dalam lingkungan sekolah. Selanjutnya apabila mereka sudah mahir, maka dalam lingkungan luarnya nanti akan semakin mampu berinteraksi dengan baik. Serta di dalam artikel juga telah dijelaskan bahwa konsentrasi tujuan belajar terletak pada pembentukan manusia seutuhnya yang dilengkapi daya pikir tinggi. Jadi arah pengembangan horizontal dan arah pengembangan vertikal sudah seyogyanya berjalan secara seimbang agar terbentuknya manusia yang utuh dalam aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik. Dengan adanya teknis seperti ini, sistem belajar seumur hidup akan tercipta dengan sendirinya.
b. Hikmah, pelajaran dan kesimpulan dari artikel “Menggugat Banking Education”.
Adapun hikmah, pelajaran dan kesimpulan yang dapat diambil dari artikel yang berjudul “Menggugat Banking Education” adalah belajar merupakan kebutuuhan kodrati setiap manusia sebagai ciptaan Tuhan YME yang paling sempurna. Belajar memang kegiatan yang sangat berat. Akan tetapi apabila dalam diri setiap insan kamil memiliki niat yang tinggi, kemauan yang keras serta kesadaran yang luar biasa, maka keberatan dalam belajar akan musnah dengan sendirinya. Belajar tidak harus dari buku, dari apa yang disampaikan oleh guru kita, namun belajar bisa dilakukan di segala tempat, di manapun dan tidak terbatas. Karena hakikat manusia dalah belajar dan belajar. Belajar menggunakan teori tidak selamanya dapat membuihkan hasil yang maksimal. Karena itu, perlu adanya actuating dari apa yang dipelajari dari teori-teori dalam belajar. Di dalam banking education, siswa diibaratkan sebuah bejana di mana guru akan mengisi ilmu yang telah dimiliknya. Sehingga kegiatan seperti itu bisa diistilahkan menabung. Siswa sebagai celengan dan guru adalah orang yang akan menabung di celengan tersebut. Padahal, bukankah pendidikan yang benar adalah guru hanya sebagai fasilitator pendidikan? Sehingga siswa dituntut aktif dalam dunia pendidikan. Dan juga, seharusnya guru tidak hanya mengajar dengan memberi berbagai macam ilmu, namun juga dituntut untuk mendidik siswa agar dapat menjadi manusia yang seutuhnya yang memiliki nilai-nilai luhur pancasila dan norma-norma yang berlaku dalam masyarakat. Jadi, harus ada keseimbangan antara mengajar dan mendidik. Namun pada realitanya, tugas mendidik sulit sekali dilakukan oleh seorang guru. Mereka bisa dan mudah saja mengajar, namun tak semudah dalam hal mendidik siswanya. Sehingga hal inilah yang perlu mendapat perhatian khusus untuk bisa ditingkatkan lagi. Kembali pada tema banking education. Dalam banking education, siswa akan kaya akan pengetahuan. Namun pengetahuan itu karena guru yang memberi bukan dari pengalaman siswa itu sendiri. Jadi, seolah-olah yang aktif dalam PBM hanya gurunya. Siswa datang dalam keadaan tangan kosong tanpa sebutir pengetahuan. Namun setelah seorang guru memberi suatu pengetahuan, siswa tersbut mennjadi terisi. Inilah maksud dari siswa yang diibaratkan sebagai sebuah celengan.sebuah pembelajaran akan lebih mengahsilkan cetakan yang berkualitas apabila setelah mendapat pengetahuan berupa teori, kemudian diaplikasikan ke dalam dunia kerja. Sehingga hasilnya akan kelihatan setelah para siswa turun ke lapangan. Jadi, tuntutan sikap kritis sistemik dan intelektualitas tinggi dalam proses belajar dapat diperoleh dari belajar praktik langsung. Belajar praktik langsung semata-mata mengaitkan murid dengan lingkungannya agar setelah mereka ke luar dari sekolah dapat melanjutkan pendidikan di masyarakat. Jadi hikmah yang bisa dipetik adalah, tidak selamanya belajar itu sumbernya adalah, guru dan buku pelajaran. Namun segala aspek, peristiwa yang terjadi di alam ini bisa dijadikan sebagai alat atau sumber belajar. Sebagai pendidik tidah hanya mahir dalam mengajar, akan tetapi juga harus bisa dan mampu mendidik anak didiknya. Praktik langsung lebih meningkatkan ketrampilan dari pada belajar hanya menggunakan teori belaka. Sehingga nantinya memudahkan anak untuk praktik dalam dunia kerjanya di lingkungan masyarakat.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar