Alangkah Lucunya Negeri Ini.
Dalam film ini menceritakan tentang seorang sarjana (manajemen) yang bernama Muluk yang begitu susah mencari pekerjaan kesana-kesini, hingga dia mempunyai pikiran untuk bekerjasama dengan bang jarot yang berperan sebagai kepala pencopet untuk mengembangkan potensi anak buah Bang Jarot yang tentunya mempunyai profesi sebagai pencopet. Dalam hal ini bang Jarot sudah menggunakan manajemen yang cukup baik dalam pembagian tugas untuk anak buahnya. Karena untuk hal mencopet menggunakan strategi pembagian tugas, seperti halnya pencopet Mall, mereka berusaha agar kedok mereka sebagai pencopet tidak diketahui yaitu dengan berpenampilan seperti anak modis dan trendi sedangkan untuk pencopet angkutan atau pencopet yang berada diangkutan, mereka menyamar menjadi pelajar dan persis memakai pakaian yang layaknya seperti pelajar, lalu untuk pencopet pasar mereka juga berpenampilan apa adanya seperti anak-anak yang berada dipasar. Dan Muluk berharap bisa merubah nasib mereka dengan mendidik dan mengajari mereka mencari uang yang halal dan menjadikan mereka mengerti akan pendidikan. Dalam mengajar disini Muluk meminta bantuan kepada 2 temannya yaitu Pipit dan Samsul untuk mengajari mereka ilmu pendidikan maupun ilmu agama. Namun kedua teman Muluk hanya bisa dikatakan mengajar bukan mendidik karena lebih mengarah ke psikomotor dan kognitif sedangkan afeksi mereka masih belum bisa memahami akan arti ilmu ynag diberikan tersebut.
Dan dalam cerita ini Muluk lebih mengarah ke mendidik karena Muluk menginginkan anak-anak tersebut berkembang sesuai apa yang dicita-citakan tersebut dan mencapai tujuan tertentu, yaitu lepas dari “profesi”mencopet dan beralih ke pedagang asongan, agar mereka tahu arti dari sesuatu yang halal dan yang tidak. Sedangkan kedua teman Muluk (Pipit dan Samsul) hanya mengajar karena mereka hanya mengarah kepada penyampaian ilmu pengetahuan atau hanya mengarah kepada materi atau isi dai bahan yang diajarkan. Jadi mereka lebih mengutamakan pengetahuan yang diberikan mereka terhadap anak-anak tersebut tanpa tahu perilaku sehari-harinya. Dan pendidikan itu lebih mengarah ke nilai-nilai yang luhur. Dengan demikian, mendidik tidak cukup hanya dengan memberikan ilmu pengetahuan dan ketrampilan saja. Disamping itu, kita tanamkan kepada anak-anak nilai-nilai dan norma-norma susila yang tinggi dan luhur. Seperti yang telah dilakukan oleh Muluk kepada anak-anak.
Lalu apakah film tersebut mempunyai sangkut paut dengan hakikat manusia dan pengembangannya?. Jelas ada, karena dalam film tersebut anak-anak mencari kebutuhan mereka sendiri dengan mencopet, dan berusaha merubah dirinya sendiri kearah yang positif, yang dicontohkan oleh komet (ketua pencopet pasar) dia ingin memperbaiki hidupnya dengan menjadi pedagang asongan seperti yang diharapkan oleh Muluk, namun berbanding dengan Glen (ketua pencopet Mall) yang tetap bersikukuh menjadi pencopet dan inilah nasib yang diinginkannya. Hidup yang selalu dikejar-kejar oleh masa. Dari penggalan cerita ini sudah mencakup hakekat manusia yang berbunyi: individu yang mampu mengarahkan dirinya ke tujuan yang positif mampu mengatur dan mengontrol dirinya dan mampu menentukan nasibnya. Sedangkan bunyi hakekat pendidikan yang lain seperti “Individu yang memiliki sifat rasional yang bertanggung jawab atas tingkah laku intelektual dan sosial”. Sifat inilah yang membuat sarjana manajemen ingin berusaha membuat para pencopet tersebut tidak lagi mencopet dan dia merasa bertanggungjawab terhadap apa yang ada disekitarnya. Dan yang lainnya juga masih banyak yang tekandung dalam cerita ini.
Lalu ada hubungannya kah cerita ini dengan landasan dan asas-asas pendidikan?. Tentu saja, karena dalam film ini menceritakan kehidupan para pencopet yang dirangkum sedemikian rupa dan sangat kental sekali pendidikan didalamnya. Dan setiap tindakan yang dilakukan dalam cerita tersebut membuat kita yakin bahwa pendidikan itu memang sangat penting dalam kehidupan kita. Untuk lebih meyakinkan mereka Muluk memberikan gambaran yang inidah mengenai pendidikan agar mereka termotivassi untuk mencari ilmu dan menuntut ilmu, namun semua yang dilakuka oleh Muluk sesuai dengan landasan pendidikan di Indonesia saat ini. Seperti landasan pendidikan yang filosofis, pada dasarnya landasan ini merupakan landasan yang berkaitan dengan filsafat dan hakikat pendidikan. Serta cerita ini mengusung asas Tut Wuri Handayani, yang memberi kesempatan anak untuk belajar sendiri sedangkan kita (pendidik) hanya mengawasi. Dan dalam cerita ini anak-anak dibebaskan untuk memilih “profesi” tetap sebagai pencopet atau pun sebagai pedagang asongan. Dan tidak ada paksaan dari Muluk agar anak-anak mengikuti semua yang diinginkannya. Muluk hanya bisa mengawasi mereka dan memberi nasihat kepada mereka jika melakukan kesalahan.
Dan apakah lingkungan pendidikan mereka (para pencopet kecil) itu cocok danpatas bagi mereka?. Tidak, karena diusia mereka yang masih muda dan terbilang masih anak-anak seharusnya mereka mempunyai tempat pendidikan yang layak seperti halnya disekolah atu pun masyarakat yang mampu menjadikan mereka lebih berguna. Dalam adegan terakhir film tersebut sangant jelas perbedaan antara lingkungan yang mereka tempati dan lingkungan yang seharusnya mereka dapatkan yaitu pada saat adegan komet dan kawan-kawannya yang sedang berdagang dan dikejutkan oleh satpol PP yang berusaha mentertibkan para pedagang dan waria-waria yang dikira mengganggu ketertiban ini, dan akhirnya mereka lari, pada saat itu Muluk yang sedang menyaksikan salah satu anak didiknya di tangkap tidak terima dan melawan hingga akhirnya Muluk lah yang ditanagkap oleh para SatpolPP tersebut. Pada saat yang bersamaan pula ada segerombol anak-anak Sekolah Dasar yang sangat bergembira menantikan kedatangan Bapak Presiden kita. Dan padahal dalam Undang-Undang sudah disebutkan bahwa “fakir miskin dan anak-anak terlantar dipelihara oleh Negara”. Tapi apa nyatanya?, anak-anak tersebut justru hidup dijalan untuk mencari makan dengan cara mencopet dan serasa terhina jika mereka tertangkap. Sangat jauh berbeda dengan para koruptor yang dengan senantiasa mecopet uang rakyat, semakin ia tertangkap semakin melambung tinggi pula namanya.
b.) makna dari film tersebut
Indonesia ini sangat lucu. Bagaimana mungkin saat pemerintah rajin mempropagandakan sekolah gratis dan bantuan operasional sekolah (BOS), terutama jelang kampanye, banyak anak tidak sekolah dan menjadi pencopet pula.
Satu lagi, bagaimana mungkin, rakyat kecil mencopet dikejar dan terhina, sementara koruptor merajalela dan mendapat tempat terhormat dan diperlakukan istimewa.
Sejak awal, film ini menyodorkan masalah pendidikan dengan kompleksitas yang diungkap secara lugas. Mulai dari perdebatan dua orang tua, Makbul (Deddy Mizwar) dan Haji Sarbini (Jaja Miharja) tentang apakah pendidikan itu penting (menurut Makbul) atau tak penting (Haji Sarbini); lalu upaya Haji Rahmat (Slamet Raharjo) sang imam mushalla menengahi debat itu; hingga pilihan anak-anak mereka –Muluk, Pipit (Tika Bravani), dan Syamsul– untuk mendidik anak jalanan yang tergabung dalam geng copet pimpinan Jarot (Tio Pakusadewo).
Kondisi ironi inilah yang menjadi tema utama film mutakhir Dedi. "Alangkah Lucunya Negeri Ini". Setting dibuka dengan kehidupan sehari-hari masyarakat bawah.
Singkat cerita, Muluk bertemu dengan pimpinan copet, Jarot (Tio Pakusadewo) yang mengkoordinir tiga kelompok copet, yakni copet pasar, copet di mall dan kelompok copet bus.
Muluk yang sarjana manajemen menawarkan proposal kerja sama kepada Jarot. Tawarannya, mengelola hasil copet anak-anak untuk dijadikan modal usaha. Dijanjikan, uang itu akan dikembangkan sehingga mereka suatu hari tidak perlu mencopet lagi.
Tidak hanya itu, Muluk ternyata berfikir jauh. Dia ingin anak-anak pencopet itu juga belajar pengetahuan umum, mengaji, mandi dan berdagang (menjadi pengasong).
Dedi tidak ingin perubahan profesi itu mulus sehingga penonton menyaksikan happy ending. Dia ingin semuanya realistis. Tidak gampang mengubah profesi copet menjadi pengasong. Dialog cerdas muncul ketika Samsul (Asrul Dahlan), sarjana pendidikan harus menjelaskan pentingnya pendidikan. Di sini Ribut yang selalu menggunakan kata "adalah" pada setiap percakapannya.
Pendidikan adalah... Asrul menjelaskannya dengan bahasa "tinggi" yang tak dipahami. Akhirnya pendidikan dipahami sebagai kemampuan yang lebih tinggi. Jika, tak berpendidikan hanya menjadi copet dan tetap miskin, maka jika berpendidikan bisa jadi koruptor dan hidup nyaman.
Jadi, "Hidup koruptor!" Teriak belasan anak copet di rumah kosong dan sebagian runtuh yang menjadi markas mereka. Sindiran pada koruptor juga dimunculkan ketika anak dibawa ke pintu gerbang DPR. Musfar mendisain dengan manis. Anak-anak mengatakan apakah boleh mencopet di gedung DPR. Tentu tidak boleh.
Kalau korupsi, tanya anak-anak. Para pendamping menghentikan dialog dengan mengajak mereka naik ke truk dan meninggalkan pintu gerbang. DPR juga DPRD saat ini sedang berjuang agar label koruptor itu lepas dari jabatan mereka karena hingga saat ini pun tak sedikit anggotanya yang ditahan dan diperiksa terkait sejumlah kasus korupsi.
Lebih dari itu, cerita dalam film ini menempatkan tema pendidikan itu sebagai salah satu sisi dari masalah. Masalah kemiskinan menjadi perhatian utama dalam fim Alangkah lucunya (negeri ini), bahwa kemiskinan dapat diatasi dengan sukses pribadi melalui sekolah.
Bukannya Muluk lugu. Ia hanya mengambil kesimpulan yang ia anggap baik, ketika di awal film Haji Rahmat memberi fatwa tak mengapa beternak cacing, sampai tiba pekerjaan yang lebih halal. Kerangka pikir Muluk jelas: sampai tiba pekerjaan yang lebih baik, tak apa ia melakukan pekerjaan “kotor” –apalagi, toh ia mengupayakan perbaikan agar anak-anak jalanan itu beralih dari pekerjaan haram mereka menuju pekerjaan halal, mengasong.
Lalu Muluk pun mengajak Syamsul, sarjana pendidikan yang setiap hari hanya main gaple di pos kamling gang kampungnya, dan Pipit, anak Haji Rahmat. Syamsul diminta mengajar pelajaran umum, terutama membaca dan menulis. Pipit, yang sebelumnya hanya sibuk berharap dapat undian atau hadiah kuis, mengajar pendidikan agama. Perlahan, ketiga anak muda ini pun menemui makna atas hidup mereka.
Makna yang ternyata harus berbentur pada nilai-nilai para ayah. Di sepertiga akhir, film yang nyaris menuju utopia ini (peresmian enam perangkat asongan) berbelok tiba-tiba. Ketiga orang tua itu datang ke tempat anak-anak mereka bekerja di bidang “Pengembangan Sumber Daya Manusia”. Dan ternyata itu tempat copet mereka baru tahu itu.
Tadinya, mereka terbawa suasana. Mereka sudah siap mengangkat tangan, berdoa bagi para anak copet itu. Sampai tiba-tiba mereka melihat sosok Jarot yang datang. Kenyataannya, ketiga tokoh tua menyaksikan anak-anak mereka digaji dari uang copetan, meskipun dibungkus dengan kata "pengembangan SDM". Mereka tidak rela makan uang haram, uang dari mencopet.
Makbul menyisihkan gula dan teh dari Muluk. Termasuk, dana rekening listrik. "Mulai bulan depan, saya yang bayar," kata Makbul. Dia tak ingin uang dari hasil mencopet mengalir di darah dan menjadi daging di tubuhnya.
Adegan dramatis dipertunjukkan ketika keduanya berdoa di musholla, minta maaf dan ampun pada Allah karena selama ini makan uang dari hasil mencopet. Muluk dan rekan perempuannya, anak Slamet, menjadi ragu dengan profesi yang mereka lakukan selama ini.
Mereka ingin berhenti mendidik pencopet padahal mereka sudah menyiapkan enam kotak sebagai modal untuk mengasong (menjaja).
Dan kemudian, Syamsul berteriak di gang itu. Ketika melihat gelagat Muluk dan Pipit ingin menghormati keinginan ayah mereka, Syamsul berteriak putus asa, “apa lu mau lihat gue jadi bangke lagi?!”
Di sini, kita merasakan, ada sesuatu yang menerkam: ada sesuatu yang lebih besar, yang menyebabkan bahkan perhitungan benar dan salah, halal dan haram, menjadi musykil. Bagi yang meyakini, tentu saja pandangan para ayah itu benar. Tapi, kita bisa melihat, pandangan para anak itu pun tak keliru. Menjaga kemurnian tak salah, beraksi dengan mau kotor pun tak salah. Lalu, kenapa mereka jadi serba salah? Ada sesuatu di luar pilihan-pilihan individual mereka yang lebih menentukan.
Maka jelaslah, film ini lebih tertarik memasalahkan sebuah gambaran besar. Ia bicara tentang bangsa, tentang sebuah negara yang sedang menyakiti warganya. Betapa getir hidup di sebuah negara, ketika korupsi jadi harapan.
Karena kesadaran ingin mencipta dengan sebuah gambaran besar itulah, film ini terasa riuh rendah dengan sketsa lugas kehidupan kiwari bangsa ini. Ada caleg yang serbagombal. Ada dukun-dukun yang memberi janji-janji kemakmuran serba klenik. Ada televisi yang menyajikan angan-angan. Ada polisi yang menerima suap. Ada Satpol PP yang tak mau pusing, dan memutuskan memenjara orang agar mereka tak pusing lagi. Tapi, ada juga orang-orang yang ingin keluar dari kubangan gelap itu.
“Ini negara bebas…. Yang mau nyopet, nyopet! Yang mau ngasong, ngasong!”
Harapan-harapan terbanting. Orang baik tak selamanya mendapat ganjaran baik. Agama belum terlihat mampu memberi jawaban jitu. Amanat Undang-Undang Dasar belum terlaksana. Dan justru dengan menyajikan kenyataan-kenyataan getir itu, film ini tak melarikan diri dari kenyataan. Ia tidak pasif, tidak pula “aktif lari” seperti ungkapan Woody Allen di atas. Ia mencari jalan lain: ia aktif bertanya, dan aktif menjebloskan kita pada pertanyaan-pertanyaan itu.
Film ini bertanya, berteriak, mengkritik, tanpa bungkus pikiran-pikiran yang rumit, dan justru karena itu film ini mengajukan sikap: ia tak mau meninggalkan Indonesia.
Salah satu makna yang paling penting dalam Alangkah Lucunya Negeri Ini adalah perdebatan mengenai betapa pentingnya pendidikan. Konflik antara pendidikan itu penting atau pendidikan itu tidak penting menjadi konflik utama yang diangkat dalam film Alangkah Lucunya Negeri Ini. Banyak sindiran-sindiran yang tepat sasaran disajikan dengan suasana yang menghibur menjadikan film ini tidak membosankan untuk ditonton. Dan banyak nilai-nilai yang diambil.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar